Protected: Kisah Lalu Dan Nanti

2 Sep

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Tugas Kode Etik-4

22 Jun

Kelompok 8

Kelas  : 4ID02

Nama / NPM :

  1. Andrey Artha C. S. / 30412831
  2. Dian Puspa H. / 32412034
  3. Eva Komalarini / 32412574

 

 

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Kasus Kode Etik-1

 

  • A dan B bersahabat sejak kuliah, keduanya sangat menjunjung tinggi etika dan kejujuran, dan keduanya masih sering kumpul-kumpul seperti karaoke bersama.
  • A punya perusahaan kontraktor, dan
  • B bekerja di perusahaan konsultan.
  • A memenangkan proyek yang ditangani oleh B.
  • Apakah A dan B tidak boleh lagi karaoke bersama sampai proyek selesai?

 

Jawab:

A dan B tetap diperbolehkan karaoke bersama walaupun proyek sedang berjalan ataupun telah selesai, karena A dan B pada dasarnya memang telah bersahabat sejak kuliah. Pada saat A dan B menjalin kerjasama bisnis hubungan yang terbentuk adalah hubungan professional yaitu hubungan layaknya antara perusahaan kontraktor dan perusahaan konsultan, saat bekerja keduanya yaitu A dan B harus bisa mengesampingkan hubungan persahabatan mereka. Pada saat diluar jam kerja, keduanya tetap dapat menjalin hubungan layaknya dua orang yang bersahabat.

 

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Kasus Kode Etik-2

 

  • Pengolahan Limbah sebuah pabrik secara berkala dites sebelum dialirkan ke saluran irigasi dan selalu dilaporkan ke BPLH lokal.
  • Pada suatu hari Amir menemukan hasil tes buangan sedikit diatas ambang batas.
  • Bos minta kepada Amir, agar data tes hari itu “disesuaikan”. Alasannya kelebihan hanya sedikit. Hanya masalah pengukuran. Tidak membahayakan bagi ikan atau manusia.
  • Kalau dilaporkan, menurut Bos, akan ada tindakan represif dari pihak yang berwenang. (seperti penutupan sementara Pabrik sampai pengolahan diperbaiki atau ada yang kehilangan pekerjaan).
  • Apakah Amir melanggar etika kalau mematuhi perintah Bos?

 

Jawaban:

Sesuai dengan kasus yang ada, Amir tentu melanggar etika apabila mematuhi perintah Bos. Hasil tes buangan dari pengolahan limbah harus dilaporkan secara berkala kepada BPLH lokal tanpa adanya manipulasi pada hasil tes yang ada. Data hasil tes buangan yang diatas ambang batas apabila dilaporkan kepada BPLH lokal memang akan berdampak pada penutupan sementara Pabrik sampai pengolahan diperbaiki atau ada yang kehilangan pekerjaan, namun hal tersebut lebih baik daripada harus memanipulasi data hasil tes buangan pengolahan limbah. Hasil buangan pengolahan limbah yang diatas ambang batas akan berdampak besar pada kesehatan masyarakat sekitar pabrik, dimana apabila Amir mematuhi perintah Bos untuk memanipulasi atau dengan istilah “disesuikan” maka pada akhirnya hasil buangan pengolahan limbah yang diambang batas tersebut akan tercampur dengan hasil pertanian dan ikan-ikan yang berada pada area pertanian karena hasil buangan tersebut akan dialirkan di saluran irigasi. Hasil pertanian dan ikan-ikan tersebut akan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar, dan pada akhirnya akan bermunculan masyarakat sekitar yang mengalami masalah kesehatan dari mulai ringan hingga berat. Masalah kesehatan tersebut akan membuat pihak Pabrik dituntut secara hukum oleh masyarakat sekitar karena dianggap telah menyepelekan aspek lingkungan pada AMDAL (analisis mengenai dampak lingkungan), hal ini pula akan memicu tindakan represif dari pihak yang berwenang yaitu Pabrik akan ditutup sementara. Selain tuntutan hukum yang diberikan untuk pihak Pabrik, pihak Pabrik juga harus menanggung biaya pengobatan masyarakat sekitar akibat kelalaian yang diperbuat oleh Amir dan Bosnya. Amir dan Bosnya tentu akan dipecat karena dianggap telah melakukan kelalaian yang berdampak pada masalah kesehatan masyarakat sekitar. Padahal dalam prinsip-prinsip profesi tertera poin-poin tanggung jawab dan integritas moral, dalam SAPTA DHARMA pula tertera jelas bahwa Insinyur Indonesia harus senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya.

Tentu akan jauh lebih baik apabila Amir tidak memanipulasi hasil tes buangan pengolahan limbah. Hasil tes yang sedikit diambang batas tentu tidak akan memicu penutupan Pabrik secara sementara atau akan ada yang kehilangan pekerjaan, tetapi pihak berwenang hanya akan memerintahkan pihak Pabrik untuk memperbaiki pengolahan limbah. Antara Amir dan Bosnya tentu akan menimbulkan konflik apabila Amir tidak menuruti perintah Bosnya, namun konflik tersebut dapat diatasi dengan kesediaan Amir untuk menjelaskan secara detail dampak apa saja yang akan timbul apabila data hasil tes tersebut dimanipulasi.

 

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Dilemma

 

  • The hijacked plane with 200 people is approaching a building with 50,000 people
  • Vote! Will you shoot down the plane
  • A true moral dilemma

 

Answer :

The morality of intentionally shooting down passenger aircraft believed to be under the control of suicide hijackers. it is assumed that if a passenger aircraft failed to respond, and appeared to be heading towards a ‘big’ target eg a city, the government would assume it had been taken over by suicide hijackers and, as a last resort, order the Air Force to shoot down the passenger aircraft to reduce the loss of innocent life at the assumed target. This seems the ‘sensible’ utilitarian things to do. This is a situation in which a straightforward application of the law of double-effect is possible. The law of double-effect can be formulated various ways, but let’s formulate it like this:

1) An action is morally permissible if it has two effects, one good and one bad, if and

only if
2) The action itself is not morally impermissible and
3) The bad effect is not an end in itself and
4) The bad effect is not a means to the good end and
5) The good effect is proportionate to the bad and
6) There is no better, alternative solution

for folks keeping score at home, note that we just used the word “proportionate.” This term or a synonym is always present in articulations of the law of double-effect, showing that proportion is a valid consideration in Catholic moral theology. Not all reference to something being proportional means that a person is committing the error of proportionalism. Proportionalism treats the proportion of good and bad as the only morally relevant criterion in a moral system. The truth is that it can be a criterion in a moral system but not the only criterion, as is the case here, where we’ve got conditions (2)-(4), which are clearly non-proportional.

So let’s look at conditions (1)-(6) and ask if they are fulfilled, or potentially fulfilled, in the case of shooting down a plane whose hijackers must be assumed to plan on using it as a weapon of mass destruction.

Is condition 1 fulfilled or fulfillable? Yes. Shooting down the plane will have the good effect of stopping it from being used as a WMD. It also has the bad effect of killing everyone (or virtually everyone) on board, as well as additional possible people on the ground who might get killed or injured when the plane comes out of the sky.

Is condition 2 fulfilled or fulfillable? Yes. It is not immoral in itself to shoot down a plane. If it were then it would be immoral for the British to shoot down Nazi bombers in World War II. Is condition 3 fulfilled or fulfillable? Yes. The deaths of the people in the plane and on the ground are not an end in themselves. The object of the moral act is stopping the plane.

Is condition 4 fulfilled or fulfillable? Yes. The deaths of the passengers and those on the ground are not the means by which the plane is stopped. The plane itself is stopped, and the people’s deaths are a side-effect of that.

With the fulfillment of this condition we pass into the realm whereby the act of shooting down the plane is potentially morally justifiable. We have established that the act (physically disabling a WMD) is not wrong in itself (condition 1) and that the deaths that will ensue from this act are neither a means nor an end, meaning that they are a side-effect of the act, which is what needs to happen for the law of double-effect to apply. There are still two conditions that need to be fulfilled, though, before you can actually fire the missle.

Is condition 5 fulfilled or fulfillable? Whether it’s fulfilled in a particular case would depend on the circumstances, but it’s certainly fulfillable in some circumstances. If there is a target within range of the plane that would result in more harm being done than the cost of the lives that would be incurred by shooting the plane down then the good to be achieved (keeping it from its target) is proportionate to the bad effect of the act of shooting it down.

Is condition 6 fulfilled or fulfillable? It’s fulfilled if you don’t have any better way to stop the plane from reaching its target than shooting a missle at it. I suspect that, much of the time at present, this is the most effective and least harmful way to keep it from its target. However, I suspect that in some circumstances, and increasingly with time, it will be possible to find other, better solutions.

 

 

Tugas 3 – Etika Profesi

28 Apr

Sebutkan contoh dan beri penjelasan mengenai standar teknik (minimal 5) dan standar menejemen (minimal 5) yang relevan dengan Teknik Industri.

 

Standar teknik merupakan serangkaian eksplisit persyaratan yang harus dipenuhi oleh bahan, produk atatu layanan. Jika bahan, produk atau jasa gagal memenuhi satu atau lebih dari spesifikasi yang berlaku mungkin akan disebut sebagai berada di luar spesifikasi. Sebuah standar teknik dapat dikembangkan secara pribadi, misalnya oleh suatu perusahaan, badan pengawas ,militer dan lainnya.

Macam-macam Standar Teknik

  1. American National Standards Institue (ANSI)

American National Standards Institue (ANSI) adalah sebuah lembaga nirlaba swasta yang mengawasi pengembangan standar konsesus sukarela untuk produk, jasa, proses, system dan personil di Amerika Serikat. Lembaga tersebut mengawasi pembuatan, diberlakukannya dan penggunaan ribuan norma dan pedoman yang secara langsung berdampak bisnis di hampir setiap sektor. Lembaga tersebut juga mengkoordinasikan standar Amerika Serikat dengan standar internasional sehingga produk-produk Amerika Serikat dapat digunakan di seluruh dunia. Lembaga tersebut memberi akreditasi untuk standar yang dikembangkan oleh perwakilan dari lembaga pengembang standar, instansi pemerintah, kelompok konsumen, perusahaan dan lainnya. Standar tersebut memastikan agar karakteristik dan kinerja produk yang konsisten sehingga masyarakat menggunakan definisi dan istilah yang sama, dan produk diuji dengan cara yang sama.

  1. American Society of Mechanical Engineers (ASME)

American Society of Mechanical Engineers (ASME) adalah asosiasi professional yang dalam kata-kata sendiri ‘mempromosiikan seni, ilmu pengetahuan dan praktik rekayasa multidisiplin ilmu dan sekutu diseluruh dunia’. Ia meyelesaikan promosi melalui kode pendidikan, pelatihan dan pengembangan professional dan standar, penelitian, konferensi dan publikasi, hubungan dengan pemerintah dan bentuk lain dari jangkauan. ASME demikian masyarakat teknik, organisasi standar, penelitian dan pengembangan organisasi, sebuah organisasi lobi, penyediaan pelatihandan pendidikan dan organisasi nirlaba. Didirikan sebagai rekayasa berfokus pada teknik mesin di Amerika Utara, ASME adalah multidisiplin dan global. ASME memiliki lebih 120.000 anggota di lebih dari 150 negara diseluruh dunia.

  1. Standar Nasional Indonesia (SNI)

Salah satu contoh standar teknik adalah Standar Nasional Indonesia (SNI). SNI adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia, dimana semua produk atau tata tertib pekerjaan harus memenuhi standar SNI. Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of Good Practice.

  1. Japanese Industrial Standard (JIS)

Standar Industri Jepang (JIS) menetukan standar yang digunakan untuk kegiatan industry di Jepang. Proses standarisasi dikoordinasikan oleh Jepang Komite Standar Industri dan dipublikasikan melalui Asosiasi Standar Jepang. Di era Meiji, perusahaan swasta bertanggung jawab untuk membuat standar meskipun pemerintah Jepang tidak memiliki standar dan dokumen spesifikasi untuk tujuan pengadaan untuk artikel tertentu, seperti amunisi.

  1. American Standard Testing and Material (ASTM)

ASTM internasional merupakan organisasi internasional sukarela yang mengmbangkan standarisasi teknik untuk material, produk, sistem dan jasa. ASTM internasional yang berpusat di Amerika Serikat dibentuk pertama kali pada tahun 1898 oleh sekelempok insinyur dan ilmuwan untuk mengatasi bahan baku besi pada rel kereta api yang selalu bermasalah. Sekarang ini, ASTM mempunyai lebih dari 12.000 buah standar. Standar ASTM banyak digunakan pada Negara-negara maju maupun berkembang dalam penelitian akademisi maupun industri.

Standar manajemen adalah struktur tugas, prosedur kerja, sistem manajemen dan standar kerja dalam bidang kelembagaan, usaha serta keuangan. Namum pengertian standar manajemen akan lebih spesifik jika menjadi standar manajemen mutu, untuk mendukung standarisasi pada setiap mutu produk yang dihasilkan perusahaan maka hadirlah Organisasi Internasional untuk Standarisasi yaitu Internasional Organization for Standardization (ISO) yang berperan sebagai badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil badan standarisasi nasional setiap Negara.

Macam-macam Standar Manajemen

  1. Sistem Manajemen Produksi TQM

Total Quality Management (TQM) mengacu pada penekanan kualitas yang meliputi organisasi keseluruhan mulai dari pemasok hingga pelanggan. TQM menekankan komitmen manajemen untuk mendaptakan arahan perusahaan yang ingin terus meraih keunggulan dalam semua aspek produk dan jasa penting bagi pelanggan.

  1. Standar Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pengertian sistem Manajemen K3 secara umum merujuk pada dua sumber, yaitu Permenaker No. 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan merupakan bagian dari sistem secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam  rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif dan pengertian Kesehatan Kerja pada standar OHSAS 18001:2007 Occupational Health and Safety Management Systems ialah bagian dari sebuah sistem manajemen organisasi (perusahaan) yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan K3 den mengelola resiko K3 organisasi (perusahaan) tersebut.

  1. ISO 14000 yaitu standar manajemn lingkungan yang sifatnya sukarela tetapi konsumen menuntut produsen untuk melaksanakan program sertifikasi tersebut.
  2. ISO 9000 yaitu kumpulan standar untuk sistem manajeman mutu (SMM) organisasi internasional di bidang standarisasi. ISO 9000 pertama kali dikeluarkan pada tahun 1987 oleh International Organization for Standardization Technical Committee (ISO/TC).
  3. OHSAS 18000 merupakan spesifikasi dari sistem kesehatan dan keselamatan kerja internasional untuk membantu organisasi mengendalikan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan personilnya.

 

REFERENSI :

http://www.google.come

Etika Profesi – Tugas 2

28 Apr

Jelaskan berbagai organisasi profesi beserta kode etik profesinya yang relevan dengan bidang Teknik Industri baik regional maupun global (minimal 5).

  1. Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

Prinsip-prinsip dasar dasar dari PII yaitu mengutamakan keluhuran budi. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian professional keinsinyuran. PII berdasarkan bentuk dan warna dapat diartikan yaitu berdiri teguh di atas kaki sendiri, berbakti untuk kemajuan bangsa Indonesia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terpengaruh oleh sesuatu aliran politik dan memberi kontribusi nyata untuk kesejahteraan masyarakat.

  1. Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia (ISTMI)

 

ISTMI bertanggung jawab atas pengembangan keilmuan dan penerapan dimasyarakat dan akan selalu berupaya agar tercapai kondisi yang efisien dan optimal dalam segenap upaya bagi perbaikan dalam pembangunan dan pemeliharaan system. ISTMI akan senantiasa menghormati dan menghargai keterlibatan mereka dan akan selalu mendayagunakan disiplin Teknik Industri dan Manajemen Industri akan dapat lebih dioptimalkan dalam upaya mencapai hasil terbaik..

  1. American Society of Mechanical Engineering (ASME)

 

Insinyur memegang terpenting kesalamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam pelaksanaan tugas professional mereka, selain itu insinyur akan melakukan pelayanan hanya dalam bidang kompensasi mereka. Insinyur akan membangun reputasi professional mereka pada jasa layanan mereka dan tidak akan bersaing secara tidak adil dengan orang lain.

  1. Institute of Industrial Engineering (IEE)

 

Insinyur harus bertindak dalam hal professional untuk setiap majikan atau klien sebagai agen setia atau wali dan akan menghindari konflik kepentingan dan akan membangun reputasi profesional mereka atas jasa layanan mereka dan tidak akan bersaing secara tidak adil dengan orang lain.

  1. Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI)

 

Seorang ergonom harus memenuhi tanggung jawab professional dengan penuh kejujuran selain itu seorang ergonom harus menghormati fakta, menyatakan opini dengan jujur dan berprilaku sedemikian rupa untuk mempertahankan integritas dan munculnya integritas kemudian memberi informasi kepada klien (dengan cara yang tepat) jika ada kesalahan atau eror yang telah dibuat.

Referensi:

http://books.google.co.id/books?

http://pii.ocid/kode-etik

Etika Profesi – Tugas 1

12 Mar

ETIKA PROFESI

 

TUGAS 1.

  1. Tuliskan karakter-karakter tidak ber-ETIKA dalam kehidupan sehari-hari (beri 5 contoh dan analisis)

Jawab :

  1. Berperilaku tidak sopan dan santun dalam bergaul di lingkungan kampus dan di masyarakat umum. Karakter berperliaku tidak sopan dan santun sangat tidak beretika dalam kehidupan  sehari-hari karna tidak akan manifestasi dari kedewasaan dalam berfikir maupun bertindak. sehingga orang lain akan memandang rendah terhadap dirinya sendiri.
  2. Berbohong dalam segala hal. Karakter kedua yaitu berbohong, sikap tidak beretika ini memiliki sikap tidak jujur terhadap diri sendiri akan kemampuannya. Sikap berbohong ini akan menyebabkan ketergantungan dan dapat mengulangi kesalahannya tersebut.
  3. Plagiat, menyontek dalam segala hal. Karakter yang ketiga yaitu prilaku yang tidak beretika dimana melanggar mkode menjunjung tinggi kejujuran ilmiah dengan tidak menaati kaidah keilmuan yang berlaku seperti menyontek, plagiat, memalsu tandatangan kehadiran dan tindakan tercela lainnya.
  4. Tidak menaati peraturan yang ditetapkan oleh Fakultas dan Para Dosen yang mendidik kita. Karakter yang keempat yaitu tidak menaati peraturan yang ada contohnya seperti larangan merokok dalam gedung namun masih banyak mahasiswa yang melanggar peratiran tersebut.
  5. Karakter yang terakhir yaitu pemarah, sesorang yang cenderung memiliki sifat pemarah seringkali tidak dapat mengkontrol dirinya sehingga akan menimbulkan beberapa kerugian baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

 

  1. Tuliskan aktivitas tidak ber-ETIKA professional dalam bekerja sebagai seorang sarjana Teknik Industri (beri 5 contoh dan analisa)

Jawab :

  1. Tidak mampu berkomunikasi secara baik dan efektif. Aktivitas bagi seorang sarjana Teknik Industri apabila tidak mampu atau menguasai komunikasi yang baik maka akan memperhambat kemajuan untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan, bagi dirinya pribadi, bagi masyarakat maupun bagi pengebangan Teknik Industri dan Manajemen Industri di Indonesia.
  2. Tidak mampu untuk bekerja sama dalam kelompok. Aktivitas bagi seorang sarjana Teknik Industri apabila tidak mampu atau menguasai kerja sama tim yang baik maka akan sulit menghadapi pengembangan pembangunan serta pemeliharaan suatu system yang bersifat multi disiplin, baik dalam peran sebagai pemimpin maupun anggota kelompok.
  3. Tidak Mampu mengidentifikasi, menformulasikan, dan memecahkan masalah-masalah sistem integral menggunakan alat-alat pokok analitikal, komputasional, dan/atau eksperimental. Aktivitas bagi seorang sarjana Teknik Industri apabila tidak mampu atau menguasai memecahkan permasalahan yang ada maka akan sulit baginya untuk dapat bergabung dalam dunia perindustrian karena seorang sarjana Teknik Industri diwajibkan untuk dapat menyelesaikan permasalahan dan melakukan pengembangan sehingga menciptkan sebuah solusi.
  4. Tidak mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi. Aktivitas bagi seorang sarjana Teknik Industri apabila tidak memiliki adanya rasa tanggung jawab yang tinggi maka upaya dalam melaksanakan tugasnya dapat mencemarkan atau merugikan sesama rekan kerja maupun orang lain.
  5. Tidak dapat bertindak bijaksana terhadap sesama rekannya. Aktivitas bagi seorang sarjana Teknik Industri apabila tidak mampu bijaksana maka akan menimbulkan permasalahan yang akan membuat dirinya akan jatuh dan tidak bisa diandalkan dalam kepemimpinan suatu industri.

 

  1. Jelaskan pentingnya memahami etika profesi untuk Sarjana Teknik Industri

Jawab :

Etika profesi sangat penting untuk Sarjana Teknik Industri dikarenakan suatu profesi harus mempunyai tanggung jawab, keadilan, dan otonomi. Tanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasil, serta terhadap dampak dari profesi tersebut untuk kehidupan orang lain. Keadilan disini menuntut suatu profesi memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Otonomi dalam etika profesi dimaksudkan agar setiap profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

Apabila profesi keteknikan dilakukan tanpa etika maka akan berakibat fatal terhadap intuisinya, orang-orang yang bekerja dalam suatu intuisi tersebut, masyarakat luas, serta akan berakibat fatal terhadap lingkungan. Profesi dalam bidang keteknikan harus dilakukan dengan kesadaran penuh terhadap pengabdian kepada masyarakat

 

  1. Jelaskan dan uraikan organisasi profesi yang relevan untuk Prodi Teknik Industri selain PII.

Jawab :

Contoh pada PT. HERO SUPERMARKET Tbk.

Adapun 10 uraian-uraian mengenai tugas atau tanggung jawab dari masing-masing profesi yang ada pada struktur organisasi PT. Hero Supermarket Tbk. akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. RUPS, membuat anggaran dasar, mengangkat dan memberhentikan dewan komisaris serta direktur, dan menetapkan arah, sasaran, dan tujuan jangka panjang perusahaan.
  2. Board of Commisioner, Menentukan garis besar kegiatan perseroan, memberikan petunjuk kerja pada direksi setelah mendapatkan persetujuan dari RUPS, mengawasi kegiatan perusahaan secara keseluruhan, memberi nasehat-nasehat kepada pihak manajerial dibawahnya.
  3. Chief Executive Officer, menentukan dan menetapkan strategi, tujuan utama dan kebijaksanaan pengembangan perusahaan, menyiapkan rencana dan anggaran serta aliran kas keuangan perusahaan, menetapkan permodalan anggaran dan aliran kas keuangan perusahaan, menetapkan tugas, tanggung jawab dan wewenang setiap pejabat yang berada di bawah pimpinannya, memberikan bimbingan dan pengarahan umum, saransaran dan perintah kepada bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas bawahannya, mengawasi jalannya perusahaan dan mengadakan perubahan yang diperlukan sejalan dengan kebutuhan akan perkembangan perusahaan, mengkoordinasikan kegiatan unsur organisasi agar dapat berjalan lebih efisien dan efektif sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan pengambilan keputusan terakhir untuk intern perusahaan dan untuk mewakili nama perusahaan.
  4. Corporate Secretary and Legal, mengatasi masalah yang berkaitan dengan hukum seperti mengurus izin bangunan Hero, mengadakan kerja sama dengan pihak kontraktor.
  5. Internal Auditor, memeriksa sistem dan prosedur yang dilaksanakan serta keakuratan data-data yang dibuat oleh masing-masing divisi yang terkait dalam perusahaan.
  6. Human Resources Director, bertanggung jawab penuh atas segala program-program dari setiap kegiatan para kepegawaiannya.
  7. Employment Manager, bertanggung jawab mengurus kegiatan perekrutan, penempatan, penilaian prestasi kerja dan pemberhentian karyawan.
  8. Training & Development Manager, bertanggung jawab penuh atas segala pelatihan-pelatihan dan pengembangan para karyawannya.
  9. Office Manager Logistik, mengatur perlengkapan dan prasarana operasional. Service, mengatur pengiriman barang dan keberadaan setiap kendaraan operasional.
  10. Compensation & Human Resources Administration Manager, memberikan atau memfasilitasi suatu dispensasi khusus dan mengatur jadwal training bagi karyawannya.

 

Sumber :

http://istmi.or.id

http://fairyscience.blogspot.co.id/2015/03/etika-profesi.html

https://core.ac.uk/download/files/379/11705739.pdf

http://furuhitho.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/31549/ETIKA+PROFESI+teknik+industri+2.pdf

 

 

Tugas Industrial Design

15 May

Tugas Industrial Design

Oleh : Eva Komalarini

 

Alasan digunakannya  analisis industrial design dalam perancangan produk yaitu  rancangan industrial (industrial design) untuk memenuhi kebutuhan pasar (demand pull) atau dilatar-belakangi oleh adanya dorongan memanfaatkan inovasi teknologi (market push). Rancangan teknik (engineering design) dari sebuah produk akan terkait dengan semua analisis perhitungan yang menyangkut pemilihan dan perhitungan kekuatan material, dimensi geometris, toleransi dan standard kualitas yang harus dicapai, dan sebagainya; yang kesemuanya akan sangat menentukan derajat kualitas dan reliabilitas produk untuk memenuhi tuntutan fungsi-fungsi serta spesifikasi teknis yang diharapkan. Disisi lain rancangan industrial (industrial design) akan sangat berpengaruh signifikan terutama didalam memberikan “sense of attractiveness”, estetika keindahan dan nilai komersial dari sebuah rancangan produk. Disisi lain rancangan industrial juga akan memberikan sentuhan-sentuhan kenyamanan dan kelaikan operasional (derajat kualitas ke-ergonomis-an) dari sebuah produk.

Rancangan teknik/rekayasa (engineering design) dari sebuah produk akan terkait dengan semua analisis dan evaluasi yang terutama menyangkut teknologi produk seperti pemilihan serta perhitungan kekuatan material, bentuk, dimensi geometris, toleransi, dan standard kualitas yang harus dicapai. Semua analisa perhitungan yang dilakukan tersebut akan sangat menentukan derajat kualitas dan reliabilitas produk guna memenuhi tuntutan fungsi dan spesifikasi teknis (core component) yang diharapkan. Disisi lain rancangan industrial (industrial design) akan sangat berpengaruh secara signifikan didalam memberikan “sense of attractiveness”, estetika keindahan, serta berbagai macam pertimbangan yang terkait dengan teknologi proses guna menghasilkan efisiensi ongkos produksi yang berdaya saing tinggi. Rancangan industrial dari sebuah produk terutama sekali akan difokuskan pada komponen kemasan (packaging component) seperti kualitas & reliabilitas, model/style, harga produk, pembungkus/kemasan (packaging), merk dagang (brand name); dan komponen pelayanan penunjang (supporting services component) seperti pelayanan purna jual (after sales services), warranty, ketersediaan suku cadang, perbaikan & perawatan, dan sebagainya. Disisi lain rancangan industrial juga akan memberikan sentuhan-sentuhan ergonomis yang berkaitan dengan keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kelaikan operasional dari sebuah produk.

cara penilaian kebutuhan industrial design dalam suatu proses perancangan bisa dilihat dari variabel-variabel data yang berkaitan dengan karakteristik manusia pengguna produk tersebut apakah sudah dimasukkan sebagai bahan pertimbangan. melalui pemanfaatan data anthropometri (ukuran tubuh) guna menetapkan dimensi ukuran geometris dari produk dan juga bentuk-bentuk tertentu dari produk yang disesuaikan dengan ukuran maupun bentuk (feature) tubuh manusia pemakainya. Data anthropometri yang menyajikan informasi mengenai ukuran maupun bentuk dari berbagai anggota tubuh manusia yang dibedakan berdasarkan usia, jenis kelamin, suku-bangsa (etnis), posisi tubuh pada saat bekerja, dan sebagainya serta diklasifikasikan dalam segmen populasi pemakai (presentile) perlu diakomodasikan dalam penetapan dimensi ukuran produk yang akan dirancang guna menghasilkan kualitas rancangan yang “tailor made” dan memenuhi persyaratan “fittnes for use”

 

Sumber : http://www.google.com

Konvensi Internasional

24 May

 

Konvensi-Konvensi Internasional

Hasil karya dari seorang pencipta tentunya akan terlihat berharga jika telah memiliki hak cipta. Pemberian hak tersebut terkadang tidaklah cukup bahkan terasa kurang membawa manfaat bagi para pencipta. Hal tersebut dikarenakan masih banyak saja para pemalsu yang menjiplak hasil karya seorang pencipta walaupun hak cipta telah ada ditangannya.

Perlindungan terhadap karya cipta sangat dibutuhkan kehadirannya, sehingga kepastian hukum yang diharapkan itu benar-benar diperoleh.Perlindungan hak cipta secara domestik saja dinilai kurang, oleh karena itu dibuatlah perlindungan hak cipta secara internasional. Perlindungan hak cipta secara internasional terdiri dari 2 konvensi yaitu Berner Convention dan UCC (Universal Copyright Convention).

  1. Berner Convention

Konvensi Bern (Konvensi Berner), merupakan suatu persetujuan internasional mengenai hak cipta yaitu mengenai karya-karya literatur (karya tulis) dan artistik. Konvensi ini ditandatangani di Bern pada tanggal 9 September 1986 dan telah mengalami beberapa perubahan. Revisi yang pertama dilakukan di Paris pada tanggal 4 Mei 1896, kemudian dilakukan revisi kembali di Berlin pada tanggal 13 November 1908. Penyempurnaan terus dilakukan tepatnya pada tanggal 24 Maret 1914 di Bern, kemudian direvisi di Roma tanggal 2 juni 1928, di Brussels pada tanggal 26 Juni 1948, di Stockholm pada tanggal 14 Juni 1967 dan yang paling terakhir di Paris pada tanggal 24 Juni 1971.

Rumusan hak cipta menutut konvensi Bern adalah sama seperti apa yang dirumuskan oleh Auteurswet 1912. Konvensi Paris pada tahun 1883 merupakan suatu konvensi yang menginspirasi lahirnya Konvensi Bern. Konvensi Bern membentuk suatu badan yang tidak jauh berbeda dengan Konvensi Paris. Pembentukan badan tersebut bertujuan untuk mengurusi tugas administratif. Pada tahun 1893, kedua badan dari masing-masing konvensi tersebut bergabung menjadi satu. Penggabungan badan tersebut dikenal dengan Biro Internasional Bersatu untuk Perlindungan Kekayaan Intelektual (dikenal dengan singkatan bahasa Perancisnya, BIRPI), di Bern. Pada tahun 1960, BIRPI dipindah dari Bern ke Jenewa agar lebih dekat ke PBB dan organisasi-organisasi internasional lain di kota tersebut, dan pada tahun 1967 BIRPI menjadi WIPO, Organisasi Kekayaan Intelektual Internasional, yang sejak 1974 merupakan organisasi di bawah PBB.

Perlindungan hukum yang diberikan pada konvensi ini tentunya mengenai perlindungan hak cipta yang nantinya diberikan terhadap suatu karya cipta hasil kreasi para pencipta atau pemegang hak. Karya-karya yang dilindungi tersebut antara lain karya-karya sastra dan seni yang meliputi segala hasil bidang sastra, ilmiah dan kesenian dalam cara atau bentuk pengutaraan apapun. Perlindungan hukum akan diberikan kepada pencipta apabila pencipta tersebut merupakan warga negara yang tergabung dalam anggota dalam konvensi ini. Pencipta yang mendapatkan perlindungan akan memperoleh hak atas hasil karyanya.

Anggota konvensi ini yaitu berjumlah 160 Negara, angka tersebut diperoleh pada Januari 2006. Konvensi Bern mewajibkan negara-negara yang menjadi anggotanya untuk melindungi hak cipta dari karya-karya para pencipta dari negara-negara lain yang ikut tergabung juga dalam kovensi ini. Negara yang melindungi para pencipta tersebut menganggap mereka adalah warga negaranya sendiri. Misalnya saja, undang-undang hak cipta Perancis berlaku untuk segala sesuatu yang diterbitkan atau dipertunjukkan di Perancis, tak peduli di mana benda atau barang itu pertama kali diciptakan. Anggota-anggota yang tergabung di dalam konvensi bern dikenal sebagai Uni Bern.

Pengecualian diberikan kepada negara berkembang (reserve). Reserve ini hanya berlaku terhadap negara-negara yang melakukan ratifikasi dari protokol yang bersangkutan. Negara yang hendak melakukan pengecualian yang semacam ini dapat melakukannya demi kepentingan ekonomi, sosial, atau kultural.

Keikutsertaan suatu negara sebagai anggota Konvensi Bern memuat tiga prinsip dasar, yang menimbulkan kewajiban negara peserta untuk menerapkan dalam perundang-undangan nasionalnya di bidang hak cipta, yaitu:

a.  Prinsip national treatment; ciptaan yang berasal dari salah satu negara peserta perjanjian harus mendapat perlindungan hukum hak cipta yang sama seperti diperoleh ciptaan seorang pencipta warga negara sendiri

b.  Prinsip automatic protection; pemberian perlindungan hukum harus diberikan secara langsung tanpa harus memenuhi syarat apapun (no conditional upon compliance with any formality)

c. Prinsip independence of protection; bentuk perlindungan hukum hak cipta diberikan tanpa harus bergantung kepada pengaturan perlindungan hukum Negara asal pencipta

2. UCC (Universal Copyright Convention)

Konvensi Hak Cipta Universal (atau Universal Copyright Convention), disepakati di Jenewa pada 1952. UCC merupakan salah satu dari dua konvensi internasional utama melindungi hak cipta. Konvensi lain yang dimaksud adalah Konvensi Bern. UCC dikembangkan oleh United Nations Educational (Ilmu Pengetahuan dan Budaya) sebagai alternatif dari Konvensi Bern. Konvensi ini disepakati agar negara-negara yang tidak setuju dengan aspek-aspek dari Konvensi Bern, tapi masih ingin berpartisipasi dalam beberapa bentuk perlindungan hak cipta multilateral.

Konvensi Hak cipta Universal merupakan Hasil kerja PBB melalui sponsor UNESCO. Tujuan adanya konvensi ini yaitu untuk menjembatani dua kelompok masyarakat internasional: civil law system (anggota konvensi Bern) dan common law system (anggota konvensi hak cipta regional di negara-negara Amerika Latin dan Amerika Serikat).

Konvensi ini kemudian berkembang dan ditindaklanjuti dengan 12 ratifikasi pada tanggal 16 September 1955. Konvensi ini melindungi karya dari orang-orang yang tanpa kewarganegaraan dan orang-orang pelarian. Hal ini berarti bahwa secara internasional hak cipta terhadap orang-orang yang tidak mempunyai kewarganegaraan atau orang-orang pelarian, perlu dilindungi. Dengan demikian salah satu dari tujuan perlindungan hak cipta tercapai.

Dalam hal ini kepentingan negara-negara berkembang di perhatikan dengan memberikan batasan-batasan tertentu terhadap hak pencipta asli untuk menterjemahkan dan diupayakan untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan ilmu pengetahuan.

 

Perbandingan antara kedua konvesi internacional tersebut, yaitu kalau konvensi bern menganut dasar falsafah Eropa yang mengaggap hak cipta sebagai hak alamiah dari pada si pencipta pribadi, sehingga menonjolkan sifat individualis yang memberikan hak monopoli. Sedangkan Universal Copyright Convention mencoba untuk mempertemukan antara falsafah Eropa dan Amerika, yang memandang hak monopoli yang diberikan kepada si pencipta diupayakan pula untuk memperhatikan kepentingan umum. Universal Copyright Conventionmengganggap hak cipta ditimbulkan oleh karena adanya ketentuan yang memberikan hak seperti itu kepada pencipta. Oleh karena itu, ruang lingkup dan pengertian hak mengenai hak cipta itu dapat ditentukan oleh peraturan yang melahirkan hak tersebut.

 

Sumber : www.google.com